Management

Showing posts with label Management. Show all posts. The posts are listed in chronological order. Click the post title to read more.

Thursday, April 7, 2016 in ,

The Stupid Lesson of Reinventing the Wheel

In most cases, everyone will tell you, "Don't reinvent the wheel!" to avoid pointless effort on doing something from scratch. It might be true for most cases, but not always.

Sometimes, no, usually, people tend to fall into a routine, doing the same thing over and over in a play called standard operating procedures. Great SOP, of course. Inline with ISO standardizations, acknowledged as a Key Success Indicators for your business and it feels stupid to "Reinvent the Wheel", right?

Some of you might already guess what I want to talk about. I think most of you will be smarter than me actually. But no, I won't talk about innovation, enhancing creativity, think outside the box or something like that. What I want to point is something simpler than that, which some of you might think it's not worth to think about.

For me, sometimes organizations, even individuals need to reinvent the wheel once in a certain amount of time. When you have been using the perfect wheel over and over and over and forever,  there is a huge risk of forgetting why it has to be done in the first place. Example.

"Good morning, thank you for calling Halo XYZ, this is Carter speaking, may I help you?"

That is an example of a standardize phone call answering line. It has been taught to all of XYZ's customer service team and call center team. It is good, polite and clear, and everyone likes it, so why should we reinvent the wheel?

This line is spoken for thousands of time for a month, nothing goes wrong, except one. Some of the call center attendants begin to think of this as a routine, they lost the essence of the line. Which is to exercise empathy towards the customer, and an eagerness to make the customer feel better from their service. They forgot to smile when receiving calls, they only focused on their target, how many calls do they have to answer, how much sales they have to make, etc.

If that happens, please, reinvent the wheel for them. Reinvent the reason why we need the wheel? What is the purpose of the wheel? How a wheel should be? Why there are certain parts inside the wheel? Is this wheel is still contextually relevant with today's requirements?

When we practice certain things over and over, we tend to act ignorant about that particular thing. We forgot to ask why should I do this, and start doing an "auto-pilot" just because it should have been done in the first place. For me, doing something without a cause is worse than not doing anything. I can compare a business that doing something without a cause with someone who doesn't know why he/she has been born all this time. Pointless. From what I've learned and experienced, this applies to everything that we do, in every aspect of our life, business, and relationships.

Don't feel stupid with reinventing the wheel when it has to be done, being ignorant is the true stupidity in one's life. Keep asking, what is the purpose of doing certain things before start doing that. If we proved to be smart enough, we might find one or more ways to innovate on how it should be done in regards to efficiency, effectivity, or even just for creativity's sake.

This might be small parts, but small things like this can make us face a wall that can't be jumped, stagnant in the peak with nowhere else to aim, or even worse, trigger a snowball effect that crushes us down unconsciously. Back to basic, reinvent the wheel when it has to be done, shall we? (CBA)

Tuesday, April 5, 2016 in ,

Are You a Big Picture or Detail Oriented?

Boss : "Apa yang akan Anda lakukan terkait masalah penjualan kita?"
A      : "Saya akan melakukan kegiatan aktivasi dan branding Pak agar angka penjualan bisa ditingkatkan lagi"
B      : "Saya sore ini akan melakukan mass promotion di kompleks perumahan XYZ dan DEF Pak, dimulai dari jam 4 sore, selain itu pada tanggal O bulan P kita akan mengadakan exhibition promo di Mall JKL."


~~~

Dari percakapan diatas, manakah yang menurut Anda lebih baik? Si Big Picture Thinker (A) atau si Detail Oriented (B)? Setiap dari kita pasti mudah memerankan salah satu dari aktor diatas sesuai dengan kepribadian kita masing-masing.

Big Picture Thinker umumnya adalah orang yang kreatif, berpikir strategis dan visioner, sedangkan counterpart-nya lebih teliti, terencana dan banyak maunya. Oke, lalu kenapa kita harus membahas hal ini? We already know this, so why these things matters?

Kebanyakan orang memang sudah mengetahui, di sisi mana mereka akan berdiri, sebagian kecil orang yang beruntung, memiliki kemampuan untuk berdiri di tengah garis pembatas keduanya, hal ini secara alami sudah menjadi bagian dari kepribadian Anda sejak lahir. Namun ketika kita semakin maju dalam pekerjaan dan karir, kita dituntut untuk bisa mengerti musuh alami kita dan berteman dengannya, either menumbuhkan kemampuan itu dalam diri kita atau jika beruntung kita bisa menemukan partner yang bisa melengkapi kita.

Melengkapi? Memangnya masalahnya apa sampai harus dilengkapi? I'm fine with being me!Well, it's quite stubborn of you, isn't it? Bisa dikatakan tidak ada yang salah dengan kedua pribadi tersebut, masing-masing punya kelebihannya sendiri, tapi jika kedua kelebihan tersebut bisa digabungkan, what a force it is.

Seorang pembuat kue yang memiliki kepribadian Big Picture yang kuat mungkin bisa membuat sebuah kue yang lezat karena mengerti kompleksitas rasa yang diinginkan oleh semua konsumennya, namun kue yang lezat bisa menjadi kue yang luar biasa jika ada si Detail Oriented yang memikirkan bagaimana kue tersebut bisa dihias dan dipercantik agar calon pembeli semakin tertarik untuk membeli kue tersebut.

The thing is, kita harus menerima bahwa ada orang-orang di luar sana yang menggunakan pendekatan dan sudut pandang yang berbeda dengan kita, dan hal tersebut bukanlah suatu kesalahan. Dalam buku Start with Why Karangan Simon Sinek, saya mengadaptasikan Big Picture sebagai why personality dan Detail Oriented sebagai how personality (this is not necessarily a direct comparison). Orang-orang Big Picture, umumnya berorientasi why, berpusat pada tujuan dan alasan dari semua yang dilakukan atau akan dilakukan, fokus pada visi, sedangkan orang-orang Detail Oriented akan berfokus pada perjalanannya, bagaimana sebuah tujuan akan dicapai, jalan mana yang akan diambil, apa konsekuensi dari setiap tindakan yang akan diambil, usually about how. Ketika dua pendekatan ini bisa disandingkan, tentu saja hal-hal menakjubkan bisa saja terwujud dari partnership tersebut. Don't want to spoil the book, tapi inilah yang terjadi antara Martin Luther King Jr. dan Ralph Abernathy, Walt Disney dan Roy Oliver Disney, Bill Gates dan Paul Allen, bahkan banyak contoh-contoh lainnya.

Berita baiknya, setiap dari kita sebenarnya memiliki kedua sisi tersebut, hanya saja satu bagian lebih dominan daripada bagian lainnya. Hal ini memungkinkan kita untuk belajar mengerti apa yang dipikirkan oleh counterpart kita, dan apa yang bisa kita lakukan untuk mendukung mereka. Everyone have their own advantages and disadvantages, the point is how to use that to your benefit?

Big picture helps us to determine what should be done and why it has to be done, Detail Oriented will make sure we do that right and deliver the right results. Which one are you anyway? (CBA)

Monday, October 21, 2013 in

Messed up with DATA in DECISION MAKING



Berapa banyak diantara kita yang sudah mulai fed up with data? Pada awalnya data itu ada untuk membantu kita membuat keputusan yang sulit. Dengan adanya data, kita bisa mereka-reka apa yang akan menjadi dampak dari keputusan yang kita buat, merencanakan alternatif katanya.

Masalahnya, jika alternatif itu terlalu banyak, maka keputusan itu semakin sulit dibuat. Fenomena Big Data yang saat ini sudah terjadi dimana-mana membuat semakin banyak alternatif muncul, dan yang semakin memperparah keadaan adalah terkadang perusahaan tidak yakin bahwa data yang dimilikinya itu benar. (You got bummed, man!)

Kita perlu melihat ulang, kenapa kita membutuhkan data tersebut untuk mengambil sebuah keputusan? Secara psikis, Simon Sinek dalam bukunya START WITH WHY, mengatakan bahwa perilaku kita dipengaruhi oleh asumsi-asumsi yang kita buat (perceived truths). Asumsi-asumsi ini akan terbentuk dari segala jenis data yang kita terima, contohnya ketika akan membeli sebuah gadget, kita pasti akan wara-wiri di internet cari tau, berapa kapasitas baterainya, jumlah pixel per inch (ppi) dari layarnya, OSnya, kameranya, dsb. dari "data-data" tersebut kita akan mulai berasumsi (atau sebagian rekan kita mengatakan "berpersepsi") bahwa gadget tersebut bagus dan kudu dibeli (tentunya dengan perbandingan kiri-kanan).

Dalam buku yang sama, Colin Powell berkata "I can make a decision with 30 percent of the information. Anything more than 80 percent is too much." Data yang terlalu banyak akhirnya memiliki tendensi untuk membingungkan. Perlu diketahui bahwa terkadang keputusan yang didasarkan dari feeling kita bahkan lebih tepat dari keputusan yang berasal dari data yang bertumpuk-tumpuk. Apakah Anda pernah mengalami ketika teman Anda / Anda sendiri melakukan sesuatu hal, lalu berpikir "kok, kayaknya ini gak pas deh.." atau "rasanya gak sreg ah!". Hal itulah yang terjadi ketika keputusan yang dibuat tidak sejalan dengan perasaan kita.

Bukan berarti dengan ini kita membuang seluruh data kita dan mulai mengambil semua keputusan berdasarkan hati kita. Menurut saya, keputusan yang baik adalah keputusan yang berdasarkan rasionalisasi data yang baik (dan benar) namun tidak bertentangan dengan perasaan kita. Maksud saya, tidak enak kan mengambil keputusan yang kita pertanyakan sendiri di dalam hati? Namun data yang tepat akan membantu hati kita menjadi yakin dengan apa yang kita putuskan.

Perlu adanya wawasan dan pengalaman yang cukup untuk dapat memilah data-data yang penting diantara kumpulan data yang berlimpah. Tidak semua data yang disajikan perlu kita telaah, dan basis yang paling mudah untuk menentukan mana data yang perlu kita lihat dan tidak adalah berkunjung ke lapangan dan melihat keadaan yang sebenarnya. Jika Anda merupakan seorang marketer, tempatkanlah diri dalam posisi pelanggan, dan mulai berpikir apakah data tersebut dapat membuat Anda mengambil keputusan yang lebih baik bagi pelanggan?

Selain itu, carilah 2-3 orang kepercayaan Anda untuk bertukar pikiran. Diskusi dalam grup kecil dapat membantu Anda untuk mempertajam analisa Anda terhadap data yang dimiliki, karena kasus yang sering terjadi pada orang-orang yang banyak melihat data adalah kesalahan intrepretasi data. Tidak selamanya peningkatan angka revenue merupakan tanda yang baik dan penurunan angka revenue merupakan hal yang buruk. Banyak aspek lain yang harus diperhatikan, misalnya margin revenue, return on investment, dsb. Adanya beberapa asisten kepercayaan Anda bisa membantu Anda untuk melihat hal-hal yang mungkin terlewat atau tidak terlihat oleh Anda.

Well, bagaimanapun kompleksnya pengambilan sebuah keputusan, its always better to make a wrong decision than not making any decision at all. Happy decide! (CBA)